Inggris

Inggris–China Menghangat, Trump Sebut Bisa Bahayakan Barat

Inggris Raya Dan China Kembali Menjadi Sorotan Global Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump Menyampaikan Kritik Keras. Hal ini terhadap langkah pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer yang mempererat kerja sama dengan Beijing. Trump menyebut bahwa bagi Inggris untuk semakin dekat dengan China “sangat berbahaya” dan bisa berdampak negatif bagi posisi geopolitik sekutu tradisionalnya. Pernyataan ini muncul di tengah kunjungan resmi Starmer ke China, yang berlangsung pada akhir Januari 2026 kunjungan pertama oleh PM Inggris ke negara tersebut dalam delapan tahun terakhir.

Komentar Trump datang ketika Starmer sedang berada di China untuk melakukan pembicaraan strategis dengan Presiden China Xi Jinping dan pejabat tinggi lainnya. Trump mengatakan kepada wartawan bahwa memperdalam hubungan ekonomi dan bisnis antara Inggris dan China merupakan langkah yang berisiko tinggi, bahkan menyatakan bahwa konsultasi semacam itu bisa berbahaya bagi kepentingan nasional Inggris.

Pola Retorika Trump Yang Selama Ini Konsisten

Trump menekankan kekhawatirannya bahwa China, sebagai kekuatan ekonomi global kedua, memiliki kepentingan yang sering kali berbeda atau bahkan bertentangan dengan kepentingan negara-negara Barat. Ia mengutip potensi isu keamanan, perdagangan tidak adil, dan ketergantungan ekonomi sebagai alasan mengapa Inggris seharusnya berhati-hati. Pernyataan ini mencerminkan Pola Retorika Trump Yang Selama Ini Konsisten menempatkan China sebagai saingan strategis utama Amerika Serikat.

Sementara itu, bagi UK, kunjungan Starmer bukan sekadar gestur simbolis. Ini adalah upaya pragmatis untuk menghidupkan kembali hubungan yang sempat dingin antara kedua negara setelah beberapa tahun ketegangan. Dalam pembicaraan dengan Xi, delegasi UK berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting yang berfokus pada ekonomi dan mobilitas. Beberapa hasil yang di ungkap oleh pemerintah UK termasuk penurunan tarif impor China. Terhadap produk seperti wiski Inggris, serta perjanjian visa yang lebih longgar bagi warga UK yang ingin berkunjung ke China.

Inggris Dan Amerika Serikat Tetap Memiliki Hubungan Yang Kuat

Starmer menyikapi kritik Trump dengan menegaskan bahwa Inggris Dan Amerika Serikat Tetap Memiliki Hubungan Yang Kuat dan erat sebagai sekutu. Ia menjelaskan bahwa kunjungannya ke China telah di bicarakan dengan tim Trump sebelumnya. Sehingga keputusan tersebut bukan langkah impulsif atau diam-diam tanpa koordinasi. Starmer juga menolak gagasan bahwa kritik Trump sepenuhnya di tujukan kepada kebijakan UK. Menunjukkan bahwa fokus Trump sebenarnya lebih banyak di arahkan kepada langkah serupa yang di ambil oleh negara-negara lain seperti Kanada.

Dalam wawancara dengan media, Starmer mengatakan bahwa mengabaikan China ekonomi terbesar kedua di dunia sama halnya dengan “menguburkan kepala di pasir.” Ia menilai bahwa dunia saat ini begitu saling terkait secara ekonomi sehingga. UK tidak bisa semata-mata memilih untuk memutus hubungan demi memenuhi kekhawatiran geopolitik. Starmer menekankan bahwa pemerintahnya ingin membangun hubungan yang “lebih canggih dan seimbang” dengan China. Yang tidak hanya berfokus pada perdagangan tetapi juga mencakup dialog.

Lebih Pragmatis Di Tengah Dinamika Geopolitik Yang Tidak Menentu

Pendekatan Starmer menunjukkan perubahan arah diplomasi UK yang Lebih Pragmatis Di Tengah Dinamika Geopolitik Yang Tidak Menentu. Setelah periode hubungan yang dingin dengan Beijing, terutama karena kekhawatiran atas hak asasi manusia. Dan tekanan dari sekutu Barat lainnya, pemerintahan Starmer memilih untuk membuka dialog dan kerja sama yang lebih luas demi kepentingan ekonomi nasional. UK mengalami tantangan pertumbuhan ekonomi, dan China menawarkan pasar besar serta peluang investasi yang bisa mendukung ekspor dan bisnis UK.

Selain itu, Starmer berpendapat bahwa isolasi terhadap China justru akan menempatkan UK pada posisi yang kurang menguntungkan. Di bandingkan negara-negara Eropa lain yang tetap terlibat aktif, seperti Prancis dan Jerman. Yang juga baru-baru ini melakukan pembicaraan serupa dengan Beijing.  Tidak semua pihak di UK setuju dengan kebijakan ini. Sejumlah anggota parlemen, khususnya yang vokal dalam isu hak asasi manusia Inggris.