Alarm Berbunyi

Alarm Berbunyi, Bisakah Bantargebang Tampung Sampah Jakarta?

Alarm Berbunyi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang Di Kota Bekasi, Jawa Barat. Maka yang selama puluhan tahun menjadi tempat utama pembuangan sampah dari Ibu Kota, kini menghadapi tekanan kapasitas yang semakin berat. Kondisi tersebut menjadi alarm bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pasalnya, produksi sampah Jakarta terus berada pada angka ribuan ton setiap hari, sementara kemampuan Bantargebang untuk menampung sampah semakin terbatas.

Berdasarkan data yang di sampaikan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, rata-rata sampah yang di kirim ke TPST Bantargebang mencapai sekitar 7.354 ton per hari. Sementara pada kondisi tertentu, volume sampah Jakarta dapat mencapai sekitar 7.400 hingga 8.000 ton per hari. TPST Bantargebang bukan fasilitas baru. Lokasi tersebut telah beroperasi selama lebih dari empat dekade. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi Jakarta, volume sampah yang harus di tangani juga terus meningkat.

Alarm Berbunyi Bantargebang Tidak Bisa Terus Diandalkan

Akibat akumulasi sampah selama puluhan tahun, ketinggian timbunan di sejumlah bagian TPST Bantargebang bahkan telah mencapai lebih dari 50 meter. Kondisi ini menunjukkan betapa besar beban yang harus di tanggung fasilitas tersebut. Persoalan semakin serius setelah terjadi longsor timbunan sampah pada Maret 2026. Peristiwa tersebut tidak hanya mengganggu operasional, tetapi juga memperlihatkan risiko keselamatan yang muncul ketika timbunan sampah sudah terlalu tinggi dan kondisi lingkungan tidak lagi ideal.

Setelah kejadian tersebut, pengelolaan dan penataan zona pembuangan menjadi perhatian utama. Pemerintah harus memastikan aktivitas pembuangan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan pekerja maupun masyarakat di sekitar TPST. Salah satu persoalan terbesar Jakarta adalah ketergantungan yang sangat tinggi terhadap Bantargebang. Selama bertahun-tahun, sebagian besar sampah Jakarta berakhir di fasilitas tersebut. Namun, kondisi lahan yang semakin terbatas membuat pola tersebut sulit di pertahankan dalam jangka panjang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto.

Pengurangan Sampah Dari Sumber

Salah satu langkah yang mulai di gencarkan adalah mengurangi sampah sejak dari rumah tangga. Pemilahan sampah menjadi organik, anorganik, dan residu dapat membantu mengurangi volume sampah yang akhirnya di kirim ke Bantargebang.

Pemerintah daerah juga mulai mendorong masyarakat untuk lebih aktif mengolah sampah di lingkungan masing-masing. Program pemilahan sampah di tingkat RT dan RW menjadi penting karena sampah yang sudah di pilah akan lebih mudah di daur ulang atau diolah kembali.

Di Rorotan, misalnya, gerakan pemilahan sampah telah berhasil mengurangi sekitar 6,5 ton sampah dari produksi harian wilayah tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan masyarakat dapat memberikan dampak nyata terhadap volume sampah yang harus di bawa ke fasilitas akhir.

Teknologi Menjadi Jalan Keluar

Keberadaan teknologi tersebut menjadi penting karena Bantargebang memiliki keterbatasan fisik. Dokumen Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga telah lama mencatat bahwa daya tampung TPST Bantargebang terus berkurang dan di perlukan pengolahan sampah yang lebih optimal untuk memperpanjang masa penggunaannya. Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah Bantargebang masih mampu menerima sampah Jakarta, tetapi sampai kapan sistem tersebut dapat bertahan.

Jika produksi sampah tetap tinggi sementara sebagian besar masih di kirim ke lokasi yang sama, tekanan terhadap Bantargebang akan semakin besar. Risiko lingkungan, keselamatan, hingga gangguan pengangkutan sampah juga dapat meningkat.

Karena itu, persoalan Bantargebang seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat transformasi pengelolaan sampah Jakarta. Pengurangan sampah dari rumah, pemilahan, daur ulang, pengolahan organik, pemanfaatan teknologi, serta pembangunan fasilitas pengolahan alternatif harus berjalan secara bersamaan.